Oleh: Maman Apriansyah
Voicemuslim.com-Perkaderan bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan pintu masuk menuju pengabdian. Di ruang perkaderan, kader ditempa dengan nilai keislaman, intelektualitas, integritas, dan semangat persyarikatan. Namun, kualitas perkaderan sejatinya tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dipahami atau sertifikat yang diperoleh, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai tersebut menjelma menjadi tindakan nyata di tengah masyarakat.
Baitul Arqam Dasar (BAD) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Dompu karena itu harus dimaknai lebih dari sekadar agenda organisasi. BAD merupakan ruang pembentukan karakter, penguatan ideologi, dan penajaman kesadaran sosial. Pertanyaan mendasarnya adalah: setelah kader meninggalkan ruang pelatihan, sejauh mana mereka mampu hadir menjawab persoalan umat dan daerah?
Pertanyaan ini penting karena masa depan Pemuda Muhammadiyah tidak ditentukan oleh ramainya kegiatan seremonial, tetapi oleh keberanian kader mengubah pengetahuan menjadi gerakan dan komitmen menjadi pengabdian.
Dari Ideologi Menuju Kerja Sosial
Pemuda Muhammadiyah memiliki modal nilai yang kuat untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Semangat dakwah amar makruf nahi mungkar, gerakan pencerahan, dan komitmen terhadap kemajuan seharusnya menjadi energi untuk menjawab persoalan konkret masyarakat Dompu.
Hasil BAD harus diterjemahkan ke dalam kerja sosial yang terukur. Kader dapat menginisiasi gerakan literasi bagi pelajar, pendampingan pendidikan, kegiatan sosial untuk kelompok rentan, penguatan ekonomi masyarakat, edukasi kesehatan, serta pemberdayaan pemuda di desa. Di tengah perkembangan teknologi, kader juga dapat membangun literasi digital untuk melawan hoaks, memperkuat budaya verifikasi informasi, dan mendorong penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.
Gerakan tersebut tidak harus dimulai dengan program besar atau anggaran yang melimpah. Perubahan dapat dimulai dari persoalan paling dekat: anak-anak yang membutuhkan pendampingan belajar, pelaku usaha kecil yang memerlukan penguatan kapasitas, atau generasi muda yang membutuhkan ruang kreatif dan produktif.
Yang dibutuhkan adalah konsistensi, kolaborasi, dan keberanian memulai. Jangan sampai kader begitu bersemangat berbicara tentang perubahan dalam forum pelatihan, tetapi kehilangan daya gerak ketika berhadapan dengan persoalan nyata masyarakat.
Berani Mengkritisi, Tidak Sekadar Menjadi Penonton
Pengabdian juga menuntut keberanian intelektual dan moral. Pemuda Muhammadiyah tidak boleh berhenti menjadi penonton ketika daerah menghadapi persoalan kemiskinan, pengangguran, kualitas pendidikan, pelayanan publik, lingkungan, atau tata kelola pemerintahan yang perlu diperbaiki.
Kritik merupakan bagian penting dari tanggung jawab warga negara dan masyarakat sipil. Namun, kritik yang mencerahkan harus dibangun di atas data, fakta, argumentasi yang rasional, serta keberpihakan pada kepentingan publik. Kritik bukan sekadar mencari kesalahan, apalagi menyerang pribadi. Kritik harus mampu menunjukkan persoalan, menjelaskan dampaknya, dan menawarkan alternatif penyelesaian.
Dalam konteks Kabupaten Dompu, Pemuda Muhammadiyah perlu membangun tradisi intelektual yang kuat: membaca kebijakan daerah, mendiskusikan persoalan publik, menyerap aspirasi masyarakat, dan menyampaikan rekomendasi secara terbuka serta bertanggung jawab.
Independensi menjadi syarat penting. Kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh menghilangkan daya kritis, sementara perbedaan pandangan politik tidak boleh menjadikan kritik kehilangan objektivitas. Pemuda Muhammadiyah harus mampu bekerja sama dengan pemerintah ketika kebijakan berpihak kepada rakyat dan bersikap kritis ketika kebijakan perlu dikoreksi.
Melahirkan Pemuda Negarawan di Tengah Dinamika Demokrasi
Tantangan ke depan bukan hanya persoalan sosial dan ekonomi, tetapi juga kualitas politik dan demokrasi. Politik yang terlalu berorientasi pada kekuasaan, politik uang, penyebaran disinformasi, polarisasi, dan melemahnya etika publik dapat mengancam kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi.
Dalam situasi tersebut, Pemuda Muhammadiyah harus mengambil peran sebagai kekuatan moral dan intelektual. Kader perlu dididik menjadi pemuda negarawan: memiliki wawasan kebangsaan, menjunjung konstitusi, menghormati perbedaan, mengutamakan kepentingan umum, serta menempatkan kekuasaan sebagai amanah, bukan tujuan akhir.
Pemuda negarawan bukan berarti pemuda yang menjauhi politik. Sebaliknya, mereka harus memahami politik sebagai instrumen memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Mereka boleh terlibat dalam ruang politik, tetapi harus tetap menjaga integritas, kebebasan berpikir, dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik.
Menjelang dinamika politik dan demokrasi mendatang, kader perlu memperkuat pendidikan pemilih, membangun budaya dialog, mengawasi jalannya kebijakan publik, dan mendorong partisipasi politik yang bermartabat. Demokrasi tidak cukup diukur dari terlaksananya pemilihan umum, tetapi juga dari kualitas partisipasi masyarakat, akuntabilitas kekuasaan, penghormatan terhadap hak warga negara, dan keberpihakan kebijakan kepada rakyat.
Mengukur Masa Depan dari Kerja Nyata
Masa depan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Dompu sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga kesinambungan antara perkaderan dan pengabdian. BAD harus melahirkan kader yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu bekerja; tidak hanya berani mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi; serta tidak hanya memahami nilai perjuangan, tetapi sanggup mempertahankannya ketika menghadapi godaan kepentingan.
Karena itu, setiap proses perkaderan perlu diikuti rencana tindak lanjut yang jelas, pembagian tanggung jawab, program pengabdian, dan evaluasi berkala. Keberhasilan kaderisasi harus dapat dilihat dari manfaat yang dirasakan masyarakat, bukan semata-mata dari banyaknya kegiatan yang terlaksana.
Ruang perkaderan akan kehilangan maknanya apabila tidak terhubung dengan ruang pengabdian. Pemuda Muhammadiyah harus berani keluar dari kenyamanan forum, hadir di tengah masyarakat, dan mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan daerah.
Baitul Arqam boleh berakhir sebagai kegiatan, tetapi nilai-nilainya tidak boleh berhenti sebagai wacana. Dari sanalah masa depan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Dompu ditakar: seberapa kuat kader menjaga integritas, seberapa nyata mereka memberdayakan masyarakat, dan seberapa berani mereka memperjuangkan demokrasi yang lebih bermartabat.
Sebab, pemuda berkemajuan bukan sekadar pemuda yang memahami perubahan, melainkan pemuda yang bersedia bekerja untuk mewujudkannya. Dan pemuda negarawan bukan mereka yang paling dekat dengan kekuasaan, melainkan mereka yang paling teguh menjaga amanah kepentingan rakyat.





